Jumat, 17 Oktober 2014


iPos : Maraknya Islamofobia di Amerika semakin memprihatinkan. Kebanyakan yang jadi sasaran itu adalah perempuan berhijab, mungkin karena jelas nampak sebagai simbol muslim. Untuk mengatasi itu, Mahasiswi muslim di Marshal University mengadakan kampanye tentang hijab dan Islam. Caranya sederhana, menantang rekan mereka yang non-muslim untuk mengenakan hijab. "Kami sederhana saja, bawa meja lalu letakan hijab diatasnya. Kami ajak mahasiswi untuk mencoba dan merasakan pengalaman mengenakan hijab. Kami ingin melihat seperti apa reaksi mereka," kata Suzann Al-Qawasmi, seperti dilansir onislam.net, Kamis (18/9).

Kampanye ini ternyata menarik minat mahasiswi kampus, dan menarik mereka untuk mencoba mengenakan hijab, "Seorang Gadis ingin mencoba hijab, dan kemudian seluruh teman-temannya mencoba mengenakan hijab", kata Suzann Al-Qawasmi.

CJ Payne, seorang mahasiswi yang mencoba mengenakan hijab mengaku merasa mulia ketika hijab dikenakan kepada seorang perempuan, "Setiap pria akan melihat Muslimah bukan karena tampilan fisiknya tetapi hatinya. Ini adalah bentuk kesopanan yang luar biasa," kata dia. Tidak hanya mahasiswi, beberapa staf kampus juga mencoba mengenakan hijab tersebut merasa pengalaman yang menarik, ""Ini pengalaman menarik bagi saya," kata Allyson Jasper. Saya menyadari kecantikan itu bersinar dan menjadi diri sendiri. Tidak peduli apa yang Anda kenakan," ucap dia.

Gerakan ini dipelopori oleh Muslim Student Association (MSA), dimana kegiatan tersebut dilakukan pada hari Selasa dari jam 11 siang hingga 3 sore di Memorial Student Center. (rohama)



SOLO, Infaq Dakwah Center (IDC) – Sudah dua pekan Luqman opname di Rumah Sakit DR Oen Solo Baru Sukoharjo usai operasi penyumbatan usus. Ia tak bisa pulang karena terganjal biaya operasi dan perawatan 33,5 juta rupiah yang belum dilunasi. Ayo bantu!!

Luqman Ar-Rivai, remaja masjid dan aktivis Islam Kota Solo, Jawa Tengah ini tidak bisa lagi beraktivitas memakmurkan masjid, memerangi kemungkaran dan kemaksiatan di kotanya. Pemuda berusia 20 tahun ini tergabung dengan salah satu laskar yang concern gerakan Nahi Munkar di kotanya.
Dua bulan sebelumnya, Luqman sudah menjalani operasi usus buntu tanpa kendala biaya karena ditanggung BPJS. Tapi dua pekan lalu sakitnya kambuh lagi lebih parah. Ususnya membusuk dan  lengket yang mengakibatkan penyumbatan usus. Ia pun dilarikan ke RS DR Oen Solo.
Naasnya, kamar kelas 2 dan kelas 3 sudah penuh semua, sehingga ia terpaksa masuk kamar kelas 1 yang biayanya cukup mahal. BPJS pun tidak menanggung perawatan RS di kelas 1.
Operasi penyumbatan usus Luqman berjalan lancar, namun ia terbentur biaya operasi sebesar 33,5 juta rupiah yang di luar kesanggupannya. Pihak keluarga sudah menjual harta benda yang ada. Teman-teman seperjuangan pun melakukan penggalangan dana solidaritas. Namun sampai berita ini ditulis, dana yang terkumpul sudah mencapai Rp 21.285.000,- Masih tersisa Rp 12.215.000 yang harus dibayar.
...Operasi penyumbatan usus berjalan lancar, namun ia terbentur biaya Rp 33,5 juta yang di luar kesanggupannya, meski sudah menjual harta benda yang ada...
“Alhamdulillah donasi yang terkumpul dari getok tular kawan-kawan aktivis Islam sebesar 6.785.000 rupiah. Jadi masih kurang 12.215.000 juta rupiah,” ujar Abdurrahman, rekan seperjuangan Luqman kepada Relawan IDC, Kamis malam (9/10/2014).
Ia menambahkan, saat ini Luqman belum bisa pulang sebelum melunasi sisa tagihan operasi dan perawatan tersebut. Kalau tidak segera dilunasi, semakin lama di opname maka biaya akan terus membengkak. Untuk itu ia berinisiatif menghubungi IDC.
 “Jika Luqman masih berada di RS, tentu saja biayanya akan semakin membengkak. Maka kita menggalang dana dengan berbagai cara, termasuk menghubungi IDC,” tuturnya.
DONASI PEDULI KASIH SESAMA MUSLIM
Kesembuhan dan kepulangan Luqman dari rumah sakit sangat diharapkan, agar bisa kembali beraktivitas memakmurkan masjid, memerangi kemungkaran, kemaksiatan dan kebatilan di kotanya.
Musibah yang dialami Luqman Rivai adalah penderitaan kita juga. Karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.
“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).
Dengan membantu saudara kita yang tertimpa musibah, insya Allah akan mendatangkan keberkahan, kemudahan dan pertolongan Allah di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat...” (HR Muslim).
Bagi kaum Muslimin yang terpanggil untuk membantu meringankan biaya operasi Luqman Rivai bisa mengirimkan donasi ke program Dana Infak Darurat (DINAR) IDC:
  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syari’ah, No.Rek: 293.985.605  a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syariah (BSM), No.Rek: 7050.888.422  a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.728.9 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302  a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank BCA, no.rek: 631.0230.497 a/n Budi Haryanto (Bendahara IDC)

CATATAN:
  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 3.000 (tiga ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.003.000,- Rp 503.000,- Rp 203.000,- Rp 103.000,- 53.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqdakwahcenter.com.
  • Bila biaya operasi Luqman Rivai sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Info: 08567.700020 – 08999.704050
  • PIN BB: 2AF8061E.

BERITA TERKAIT:
  1. Operasi Penyumbatan Usus, Aktivis Nahi Mungkar Solo Butuh Biaya Rp 12 Juta. Ayo Bantu!!
  2. Biaya Operasi Penyumbatan Usus Dilunasi, Aktivis Nahi Mungkar Solo Bisa Meninggalkan Rumah Sakit

Sillaturahmi Akbar guru tpa Solo Raya ke III
"Guru Tpa pahlawan kita"
Ahad 9 Nov 2014
07.30 - 11.30 Di Masjid Nurul Huda UNS
Solo‪#‎Pembicara‬ :
- U. Bachtiar Nasir
( Ar rahman Qur'ani Learning Center)
- U. Fadlan Al Garamatan (dai dr papua)
- U. Syuhada Bahri
(ketua dewan dakwah pusat)
‪#‎Htm‬ 10rb
‪#‎Fasilitas‬:
Stiker
Gantungan kunci
snack
buku
Sertifikat
‪#‎Grandrprize‬ :
Laptop
Sepeda lipat
Hp
Flas disck
Dll
‪#‎pendftran‬ Ketik SGTPA_Nama TPA_Jumlah_Alamat kirim ke 08562514502
# Contact Person
HP/WA 085725385822
BB 7D95BE43
www.Lkgtpq.com



Pembangunan Masjid Nabawi pada Masa Sultan Qait Bay
Sabtu, 18 Oktober 2014, 11:41 WIB

Ali Kazuyoshi/ca
Ilustrasi Masjid Nabawi tempo dulu.
REPUBLIKA.CO.ID, Untuk kedua kalinya kebakaran melanda Masjid Nabawi pada tahun 886 M. Petugas yang menjaga Masjid Nabawi lalu mengirimkan surat memberitahukan kejadian tersebut kepada Sultan Qait Bay.

Sultan merasa sangat sedih saat mengetahui hal tersebut. Dia lalu mengirimkan dana, bahan bangunan, dan para ahli bangunan untuk memperbaiki Masjid Nabawi. Pembangunan segera dilaksanakan dan berlangsung hingga bulan Ramadhan 888 H.

Dalam perbaikan ini, Masjid Nabawi diperluas dengan penambahan lahan 120 meter persegi sehingga menjadi 9.010 meter persegi. Dinding masjid dibangun setinggi 11 meter, serambi sebanyak 18 bagian, sedangkan pintu hanya dibuat empat buah. Namun, menara masjid ditambah menjadi lima menara.

Selain itu, dibangun pula teras masjid, jendela, dan lubang udara di dinding-dinding untuk menjamin keluar masuknya udara dan pencahayaan yang cukup. Bagian dalam masjid tetap menjadi satu. Untuk penerangan pada malam hari, masih menggunakan teknik lama, yaitu memanfaatkan lampu minyak yang disebar di berbagai sudut masjid.

Dalam Ensiklopedi Haji dan Umrah oleh Drs Ikhwan M.Ag dan Drs Abdul Halim dijelaskan, setelah perbaikan dirampungkan, Sultan Qait Bay datang sendiri ke Madinah untuk memeriksa hasil pembangunan.

Dia kemudian mewakafkan beberapa sarana dan prasarana untuk kelengkapan Masjid Nabawi; di antaranya panti asuhan yatim, madrasah, tempat penggilingan tepung, tempat air minum, dan tempat pembakaran roti.


Bentuk Pengajian, Tak Canggung Gerilya ke Rumah Warga
Menjadi seorang penceramah bukanlah hal yang mudah, sebab, kata-kata yang dikeluarkannya harus serupa dengan tindakan yang dilakukannya. Bertujuan untuk membekali perempuan dengan pengetahuan agama, Muslimah mendirikan pengajian Thoriqul Jannah sebagai wadah untuk mencapai cita-citanya.
MEMASUKI gang yang cukup sempit, tampak rumah teduh dengan cat berwarna putih. Ketika memasuki rumah Muslimah, beberapa foto kiai, seperti Gus Dur, Gus Miek, dan Kiai Hamid Pasuruan hingga Syeikh Abdul Qodir Jailani terpajang di rumahnya. Perempuan 62 tahun tersebut berceita tentang perjalanannya membina kaum perempuan.
Bermula ketika dia melihat lingkungan sekitarnya tidak ada kegiatan sama sekali, khususnya kaum perempuan. Shingga terbesit dalam dirinya untuk memanfaatkan ilmunya yang telah diperoleh dari pesantren. Berbekal niat yang baik, dia mendatangi rumah tetangganya di Desa Sempolan Silo.
Tak cukup sulit baginya mengajak para perempuan mengadakan suatu kegiatan positif. Dalam waktu dekat, dia bisa menegumpulkan peempuan di musala. Perkumpulan perempuan tersebut disepakati untuk diisi dengan kegiatan pengajian. "Meliharat perempuan berkeliaran, saya kumpulkan mereka," katanya.

Kelompok Pengajian hingga Maesan Bondowoso

Berawal dari perkumpulan pertama tersebut, Muslimah semakin bersemangat untuk menularkan ilmunya pada kaum perempuan di kampungnya. Tak puas dengan satu kelompok pengajian, dirinya juga mendatangi para perempuan di desa lain unutk membentuk kelompok pengajian perempuan.
Beberapa kelompok pengajian telah terbentuk dan rutin diisi. Muslimah oun dipercaya untuk menjadi Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU di Sempolan. Kepercayaan tersebut membuat dirinya semakin percaya diri untuk menyebarkan pengetahuan agama kepada perempuan. "Saya dilantik bersama dengan dilantiknya Gus Dur menjadi Presiden RI," katanya semangat.
Setelah menjadi salah satu dari pengurus NU, dia terus mengembangkan sayap untuk membentuk kelompok pengajian dilain kecamatan. Selain di Kecamatan Silo, terbentuk pula di Kecamata Mayang, hingga menyusul kemudian di Maesan Bondowoso.
Namun, perjuangan tersebut sempat mendapat cobaan pada tahun 2000, selepas mengisi pengajian yang hendak pindah mengisi pengajian lainnya. Dia mengalami kecelakaan dan mengalami cedera hingga dua tahun. "Waktu itu saya tertabrak sepeda dan dirawat di rumah sakit Jakarta," kata ibu tiga anak tersebut.
Pada 2004, masa jabatannya sebagai ketua PAC Muslimat NU selesai. Muslimah mendirikan kelompok pengajian bernama Thoriqul Jannah untuk meneruskan cita-citanya mencerdaskan perempuan.
Pengajian yang rutin diselenggarakannya selain diisi dengan tausiah keagamaan, juga diisi dengan kegiatan seperti mengaji, shalawat hingga tahlil. "Terkadang, dalam satu hari ada tiga pengajian," tambahnya. Kelompok pengajian tersebut selain untuk memberikan pemahaman tentang kewajiban sebagai perempuan. Seperti cara beribadah, mengurus keluarga, dan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, Juga untuk menjalin silaturahmi dengan warga lainnya.
Menurutnya, perempuan merupaka tiang agama, apabila perempuan rusak, maka rusaklah agama. Denga pengajian tersebut, Muslimah berharap agar para perempuan memiliki bekal untuk dengan nilai-nilai Islam dan menjalani keseharian. "Hal yang penting adalah penanaman akhlak bagi perempuan," pungkasnya. (c1/wah)